Keberadaan Opium di Jawa dan Nusantara
I.
Pendahuluan
Persaingan dagang antara East India Company (EIC) dengan VOC pada abad-16 bukanlah
persaingan biasa antar kongsi dagang. Namun,persaingan untuk mempertaruhkan
harga diri Belanda dan Inggris. Mereka berlomba-lomba meraup keuntungan yang
sebesar-besarnya dengan menjual berbagai komoditas, salah satunya adalah Opium.
Opium atau lebih dikenal sebagai candu sendiri adalah komoditas yang dihasil-
kan dari tanaman papaver somniferum, dan berasal dari darah Turki dan Persia
atau British Bengal (Rush, 2012: 69)
Saudagar-saudagar arab lah yang memperkenalkan dan
membawa opium secara meluas ke Kawasan Asia. Ada 2 tipe Opium pada masa itu
yaitu Opium Levant yang dibawa langsung dari tanah arab lebih tepatnya Turki
yaitu kota Levant dan Opium Bengal yang didatangkan dari India. Biasanya opium
Bengal ini sering di ekspor ke Kawasan nusantara oleh VOC.Opium menyentuh
nusantara pertama kali pada tahun 1650, dimana VOC mengekspor opium dalam
jumlah kecil dari Bengal ke kota Batavia. Opium yang diekspor itu berasal dari
daerah Malwa, India. VOC memang sebelumnya sudah berminat untuk mengedarkan komoditas opium dan mengekspornya
ke negara-negara koloninya. Barulah pada 1670-an, VOC mengeskpor opium dalam
jumlah besar ke kota Batavia. Keberadaan opium memang sudah bukan menjadi hal
yang aneh lagi di pulau jawa kala itu. Dimulai dari keluarga kerajaan hingga
rakyat biasa pasti mengenal bahkan pernah mencoba barang candu itu. Semua tidak
lepas dari kesuksesan perdagangan VOC dan peran bandar-bandar opium yang
notabene adalah orang-orang tionghoa. Tentu banyak pertanyaan yang ada dalam
benak kita seperti Mengapa keberadaan opium sangat mudah diterima di masyarakat?apakah
opium hanya mencapai jawa saja atau bahkan beredar lebih jauh lagi hingga ke
timur? Apa dampak opium bagi Hindia Belanda atau VOC dan bagi Nusantara?.
Tentunya peredaran opium ini adalah topik yang sangat menarik untuk dibahas
karena ternyata barang candu di Indonesia ini sudah ada sejak masa VOC juga
Kolonialisme Belanda.
II.
“Opium
di Batavia”
Kota
Batavia merupakan kota pertama dimana opium tiba di pulau Jawa. Hal ini tidak
terlepas dari peran Batavia sebagai pusat kegiatan Imperial dan Komersil di Kawasan
Asia. Oleh karena itu , setiap opium yang hendak diedarkan harus singgah di
Batavia terlebih dahulu. Tercatat dari tahun 1659-1771 sebanyak 67,831 peti
berisi opium di ekspor langsung oleh VOC dari Bengal dan antara tahun 1688-1759
jumlah penjualan opium di kota Batavia naik 3 kali lipat dari 400 peti menjadi
1200 peti. Bahkan hingga tahun 1789 pun total keuntungan yang didapat dari
hasil penjualan opium itu berjumlah 48,540,377 florins[1]
atau setara dengan 19,416,150 Peso Spanyol.
ini menunjukkan bahwa penjualan
opium di Batavia sangat membawa keuntungan bagi VOC terutama di bidang
perekonomian.
III.
Orang
Tionghoa dan Opium
“orang
Tionghoa adalah “the life and soul of the commerce of the country (kehidupan
dan jiwa perdagangan di negeri ini)”
. ini
adalah perkataan dari Sir Thomas Stamford Raffles dalam bukunya yang
berjudul “ History of Java”. Raffles
pun mengakui bahwa kemampuan perniagaan orang-orang tionghoa sudah tidak
diragukan lagi. Orang tionghoa memang selalu membawa pengaruh baik entah bagi
nusantara ataupun VOC di bidang perekonomian. Gubernur jenderal VOC, J.P Coen
pun memuji orang-orang cina sebagai bangsa yang rajin “daer is geen volck in de wereld, die ons beter dienen dan Chineezen”
-Tak ada bangsa di dunia yang melayani kita dengan lebih baik daripada bangsa
Tionghoa (Ong 1943:63). Leonard Blusse dalam Strange Company (1986) menulis
bahwa J.P Coen, Gubernur Jenderal VOC 1619-1623 menganggap orang Tionghoa di
Batavia yang baru didirikan sebagai aset ekonomi yang penting. Pendapat dan
pujian J.P Coen ini kelak menjadi ironi ketika pada 1740, bangsa Tionghoa
dibantai oleh VOC. (Sunjayadi, 2006).
Pada masa VOC, orang
Tionghoa berperan sebagai tusschenpersoon (perantara) antara VOC dan pihak
pribumi, baik itu sebagai pedagang perantara (tusschenhandelaar) maupun
pengumpul hasil bumi (Ong 1943:57). Namun, ada pula yang ‘dipaksa’ didatangkan
untuk ditempatkan di Batavia, Banda, dan Ambon (Ong 1943:58).) Jabatan lain
adalah sebagai pachter yang bekerja sama dengan pihak penguasa baik Belanda
maupun pribumi. (Sunjayadi, 2006).
Dari uraian di atas
bisa kita lihat bahwa orang tionghoa juga memiliki peran yang sangat besar
dalam kemajuan perekonomian VOC. Komoditas-komoditas yang tiba di Pelabuhan Batavia
termasuk opium, oleh orang-orang tionghoa langsung dibawa dan diedarkan ke
penjuru jawa bahkan ke daerah-daerah lain di luar pulau jawa. Contohnya Opium
sampai hingga Teluk Tomini karena dibawa oleh orang-orang cina yang berlayar
dan berdagang hingga ke pulau Sulawesi . lalu Opium juga menjadi komoditas
impor utama di Kupang. Opium di Kupang juga dibawa oleh orang-orang cina yang
bertindak sebaga penyewa atau patchers. Di
Pulau jawa sendiri orang-orang cina bertindak sebagai pengedar opium dan
sebagai penungut pajak opium. Karena opium sendiri diatur dibawah monopoli
pemerintah belanda dan mayoritas konsumennya pun adalah orang-orang jawa asli. Menurut
Liem Thian Joe seorang penulis tentang komunitas china mengatakan bahwa hanya
sedikit orang-orang cina yang bebas dari opium. Bisa kita Tarik kesimpulan
bahwa selain menjadi pengedar dan pemungut pajak opium, orang-orang cina juga
merupakan pemakai opium bahkan opium yang dikonsumsi pun jauh lebih banyak
dibanding opium yang dikonsumsi oleh penduduk pribumi. Tapi jika dibandingkan
dengan jumlah orang yang memakai opium, jelas pribumi lebih banyak dibandingkan
cina. Di kalangan orang-orang cina kebiasaan mengisap opium merupakan kebiasaan
yang popular. Ini berbanding terbalik dengan pandangan orang-orang belanda yang
menganggap kebiasaan menghisap opium adalah kebiasaan yang buruk dan lebih
mencirikan orang-orang kampung, jahat, lemah dan rendahan.
IV.
“
Jawa Pulau Candu”
Secara hukum
dan moral, perdagangan candu di tengah masyarakat adalah tindakan
kriminal. Masyarakat Jawa menganggap candu atau madat sebagai bagian dari
lima tingkah laku yang dilarang atau molimo. Paku Buwono IV pada tahun 1788 hingga 1820 menyatakan pandangannya
lewat syair didaktik panjangnya, Wulang Reh (Ajaran ajaran tentang
perilaku benar). Dia Menulis :
Sedangkan
bagi seorang penghisap opium,
Kemalasannya
bercampur dengan sikap masa bodoh.
Satu-satunya
hal yang disukainya adalah menghadapi
Sebuah lampu teplok sementara
[ia]
duduk di sebuah bale-bale sambal bertopang kaki
Dan
[tangannya] dengan santainya
Memegang
sebuah pipa madat…
Ketika
dia menjadi ketagihan,tubuhnya pun menjadi kurus
Warnanya
biru, putih
…
Napasnya
tersengal-sengal
Sering
batuk-batuk,
Dengan
dahak menggumpal di rongga dadanya.
Jauhi
madat:
Madat
tidak baik untukmu semua.
Mengisap
madat itu tidak baik.
Dari syair itu kita menjadi tahu bagaimana keadaan
orang yang suka menghisap opium, penuh dengan penyakit dan kesengsaraan.
Golongan muslim ortodoks di Jawa sangat membenci opium bahkan melarang
peredaran opium karena penggunaan opium bertentangan dengan ajaran islam dimana
sesuatu yang bisa atau bersifat merusak
dan menyakiti diri sendiri dianggap haram hukumnya. Namun, sikap orang jawa
terhadap Opium sangat Ambivalen. Jumlah pecandu opium di pulau Jawa sangatlah
banyak bahkan pada tahun 1870-an setiap desa memiliki sejumlah pemakai tetap
dan banyak pecandu tidak tetap atau kadang-kadang memakai opium. Mengapa opium
bisa mudah diterima di masyarakat jawa? Bagi kalangan priyayi, opium menandakan
sisi keramahan dan kehidupan Bersama masyarakat. Di Jawa Tengah, saat bangsawan
mengadakan sebuah pesta-pesta, mereka secara rutin menyuguhkan opium pada
laki-laki yang hadir dalam pesta tersebut. Di masyarakat pedesaan,
perayaan-perayaan yang menandai berakhirnya panen padi atau dimulainya musim
petik kopi , seringkali disertai dengan bagi-bagi opium. Apa yang membuat opium
mudah diterima adalah karena opium sendiri bersifat candu dan membuat
ketagihan, lalu karena faktor kebiasaan untuk menyelipkan opium di setiap
tradisi atau perayaan dan karea faktor pemimpin masyarakat memakai opium juga
menjadi alasan mengapa masyarakat Jawa banyak yang memakai opium. Namun ada
juga yang menggunakan opium awalnya sebagai obat untuk menghilangkan sakit
kepala, demam, diare, disentri, malaria, TBC, lemah, letih, lesu, penyakit kelamin, menambah fantasi
seksual.dll.
Mereka (masyarakat jawa) menganggap
bahwa opium adalah Stimulans (obat
tjape).
Namun, Persebaran opium
di Jawa tidaklah merata. Daerah Bnaten, Bandung dan Kawasan Priangant erbukti
hanya sedikit yang tertarik dengan barang candu itu. Itu disebabkan karena
masyarakat daerah sana yang sangat taat dan kental terhadap nilai-nilai agam
islam. Banten dan Kawasan priangannya melarang secara resmi penjualan opium di
daerah tersebut. Penjualan opium pun hanya sebatas berada di pasar-pasar gelap
saja, itupun sangat minim jumlahnya. Pasar-Pasar opium berpusat di daerah Jawa
Tengah dan Jawa Timur. Daerah-daerah seperti Surakarta, Kediri, Semarang dan
Madiun selalu mendapatkan keuntungan yang besar dari penjualan opium. Pada abad
ini menghisap opium telah menjadi ciri khas tersendiri bagi kehidupan desa dan
kota di Pulau Jawa. Menurut Peter Carey, pada tahun
1820 terdapat 372 tempat di Yogyakarta dan Surakarta yang memiliki lisensi
menjual candu di wilayah vorstelanden termasuk di setiap
gerbang-gerbang utama atau bandar, sub-gerbang atau rangkah dan pasar-pasar
milik kesultanan dan seluruh pesisir termasuk Rembang, Kedu dan Surabaya yang
menjadi tempat tinggal penghisap candu dalam jumlah terbesar
Cara orang-orang jawa
dalam mengkonsumsi opium berbeda-beda, tergantung alat dan selera mereka.
Terkadang mereka mencampurkan penguat rasa dan sejumlah bahan lainnya. Terdapat
kesenjangan antara si kaya dan si miskin dalam menghisap opium. Si kaya
menghisap opium yang lebih mahal dan lebih baik kualitasnya ditambah lagi
pipa-pipa yang dibuat dengan sangat bagus atau disebut (badudan). sedangkan si miskin menghisap opium seadanya dan pipa
yang digunakan pun terkadang hanyalah batang tumbuhan. Bahkan banyak
masayarakat jawa yang memakainya bukan dihisap namun diseduh dengan kopi atau
mencampurkannya dengan tembakau.
V.
Kesimpulan
Asal mula opium di
nusantara adalah karena opium merupakan komoditas ekspor VOC. Opium berubah
menjadi komoditas regional karena opium sendiri menghasilkan keuntungan yang
sangat besar terutama di Pulau Jawa.
Penyebaran opium ini tidak lepas dari peran orang-orang cina. Dimana
mereka berperan sebagai pengedar dan distributor opium ke segala daerah di
nusantara khususnya Pulau Jawa. Penggunaan Opium di Pulau Jawa sangatlah besar.
Hampir di setiap desa ada pemakai opium tetap. Penyebab semua itu ; 1). Karena pemimpin
masyarakat atau kepala desa mereka yang memakai opium. 2). Karena faktor budaya
dimana bagi kalangan priyayi opium menunjukkan keramahan dan kehidupan Bersama
masyarakat. 3) karena diyakini sebagai obat dari segala penyakit dan penambah
fantasi seks. 4). Karena opium juga merupakan komoditas yang menguntungkan bagi
VOC juga bagi sebuah kerajaan. Opium sendiri sudah menjadi ciri khas masyarakat
Jawa pada abad 16 hingga 18.
DAFTAR PUSTAKA
Hasanuddin Perdagangan
orang bugis di kawasan teluk tomini masa kolonial belanda [Journal]. -
pp. 221-236.
Rush James R. Opium to Java : Revenue Farming and Chinese
Enterprise in Colonial Indonesia 1860-1910 [Book]. - 2000.
Sahaka Fadliani MENENGOK PRIMADONA DAGANG
PELABUHAN KUPANG, 1850-1870 [Journal]. - 2017.
Souza George Bryan Opium and the company:
Maritime trade and imperial finances on Java, 1684-1796 [Journal]. -
2009. - pp. 113-133.
Sunjayadi Achmad Peran Kaum Tionghoa dalam
Turisme Kolonial di Hindia Belanda [Journal]. - 2006.
Die, Ong
Eng Chineezen
in Nederlandsch-Indië: Sociografie van een Indonesische Bevolkingsgroep.
Assen: Van Gorcum. - 1943
Komentar
Posting Komentar