Sejarah Indonesia pada masa Hindia Belanda (Masa Interregnum, Daendels dan Raffles)
- Masa Interregnum / Masa Peralihan ( 1800
- 1808 )
Krisis politik dialami oleh kerajaan Belanda pada
masa ini disebabkan oleh perang Koalisi antara Perancis melawan Inggris.
sejak Revolusi Perancis, Perancis berubah yang awalnya dari monarki
absolut menjadi monarki konstitusional. dari sini lah paham monarki
konstitusional ini mulai menyebar ke seluruh dataran Eropa. Inggris yang
sudah nyaman dengan sistem Monarki absolut pun menolak akan sistem
monarki konstitusional. oleh karena itu, Inggris pun perang terhadap
Perancis.
Peperangan itu dimenangkan oleh Perancis dan saat itu
pula Perancis mencoba mempengaruhi kerajaan Belanda yang dimana sedang
dalam keadaan krisis politik. Kedudukan Raja William I (Raja Kerajaan
Belanda) pun di kudeta oleh partai politik yag bernama Partai Patriot.
setelah kedudukan Raja William I di kudeta oleh Partai Patriot, otomatis
Belanda berada di bawah kontrol dari negara Perancis. Perancis pun
mulai mengambil alih semua daerah jajahan dari kerajaan Belanda yang
salah satunya adalah Pulau Jawa.
- Masa Gubernur Jendral Herman W. Daendels (1808-1811)
Louis Napoleon pun memerintahkan Herman W. Daendels
untuk mempertahankan Pulau Jawa dari serangan Inggris. secara tidak
langsung, Jawa bukan lagi jajahan Belanda, namun menjadi jajahan
Perancis. dalam rangka mempertahankan Pulau Jawa dari Inggris, Daendels
pun banyak melakukan pembangunan dan kebijakan di Pulau Jawa, mulai dari
pertahanan dan keamanan, ekonomi dan sosial.
Kebijakannya di bidang pertahanan dan keamanan antara lain :
a. Membangun jalan raya pos Anyer-Panarukan sejauh 1000km.
b. Membangun pabrik senjata di Gresik dan Semarang.
c. Membangun pangkalan Angkatan laut di Ujung Kulon dan Surabaya.
d. Memperkuat benteng pertahanan.
e. Meningkatkan kesejahteraan prajurit.
Kebijakanya di bidang Ekonomi antara lain :
a. Mengembangkan uang kertas.
b .Memperbaiki gaji karyawan.
c. Memberlakukan pajak in nature ( Contingenten) yaitu membayar pajak dengan menggunakan hasil bumi seperti kopi, lada, teh, dll.
d. Memberlakukan Preanger Stelsel (Tanam Paksa).
e. Memonopoli perdagangan bebas.
Kebijakannya di bidang Sosial antara lain :
a. Memberlakukan kerja rodi dan perbudakan yang menyebabkan timbul banyak korban jiwa.
b. Menghapus upacara penghormatan kepada residen, sunan dan sultan.
c. Membuat jaringan pos distrik.
Daendels sendiri dibenci oleh rakyat Jawa karena
kebijakannya yang memang merugikan rakyat Jawa sendiri.bahkan ia diberi
sebutan tangan besi oleh rakyat Jawa karena sifatnya yang
keras.Akhirnya kabar Daendels yang keras itu masuk ke telinga Napoleon
Bonaparte dan memerintahkan agar Daendels diganti karena ketakutan
Napoleon akan keberpihakkan rakyat Jawa kepada Inggris.
Akhirya Daendels pun dilengserkan dan digantikkan
oleh William Jenssen. pada masa Jenssen ini belanda harus takluk oleh
Inggris. Ia sendiri lari ke kota Semarang da akhirnya tertangkap di
sebuah desa. Akibat kekalahan Belanda ini, muncullah perjanjian yang
bernama Kapitulasi Tuntang (1811) yang isinya adalah :
a. Seluruh Jawa diserahkan kepada Inggris
b. Semua tentara menjadi tawanan Inggris
c. Pegawai Belanda yang mau kerjasama
dengan Inggris memegang jabatan.
d. Hutang Belanda bukan tanggung jawab
Inggris
Akhirnya, Pulau Jawa pun jatuh ke tangan Inggris dibawah pimpinan Sir Thomas Stamford Raffles.
- Masa Sir Thomas Stamford Raffles (1811-1815)
Pada masa Raffles ini lebih bersifat bebas ,
berbeda dengan masa Daendels yang lebih Konservatif atau Tradisional.
ini karena Raffles sendiri memiliki prinsip Liberalisme dimana semua
didasarkan kepada kebebasan pengakuan HAM. banyak kebijakan masa
Daendels yang dihapus oleh Raffles ini seperti kebijakan :
a. Kerja Rodi dan perbudakan
b. Preanger Stelsel
c. Monopoli rempah-rempah
Raffles pun membuat kebijakan baru yaitu Sewa tanah
hanya saja, kebijakan itu gagal.
faktor yang menyebaban sewa tanah ini
gagal antara lain :
a. Pemerintah sulit menyita tanah karena
tidak ada sertifikat tanah.
b. Petani diberi kebebasan menanam apapun
yang membuat para petani kebingungan akan menanam apa. Petani bingung karena petani biasa
disuruh karena adanya tanam paksa tersebut.
c. Petani tidak mengenal ekonomi uang
karena biasa menggunakan sistem barter.
Sebenarnya masih banyak kebijakan Raffles saat memerintah di pulau Jawa seperti :
Di bidang Birokrasi dan Pemerintahan :
a. Membagi pulau Jawa menjadi 18 keresidenan.
b. Mengubah sistem pemerintahan yang awalnya dilakukan oleh para penguasa
pribumi menjadi sistem pemerintahan kolonial yang bercorak Barat
c. Bupati-bupati atau penguasa-penguasa pribumi dilepaskan kedudukannya yang mereka peroleh secara turun-temurun
d. Sistem juri ditetapkan dalam pengadilan.
Di bidang Ekonomi :
a. Petani diberikan kebebasan untuk menanam tanaman ekspor, sedang pemerintah hanya berkewajiban membuat pasar bagi petani saja.
b. Penghapusan pajak hasil bumi (contingenten) dan sistem penyerahan wajib (verplichte leverantie).
Di bidang Sosial :
a. Penghapusan kerja rodi (kerja paksa) dan penghapusan perbudakan.
b. Peniadaan pynbank (disakiti), yaitu hukuman yang sangat kejam dengan melawan harimau.
Di bidang IPTEK :
a. Ditulisnya buku berjudul History of Java di London pada tahun 1817.
b. Ditulisnya buku berjudul History of the East Indian Archipelago pada tahun 1920.
c. Ditemukannya bunga Rafflesia Arnoldi.
d. Dirintisnya Kebun Raya Bogor.
Karena Raffles gagal dan tidak bisa memberikan apa-apa kepada Inggris, Pulau Jawa pun dianggap tidak berguna oleh pemerintah Inggris. Belanda pun lepas dari Perancis da Raja William II kembali ke tahtanya dan mulai berdiplomasi untuk mengambil kembali pulau Jawa dari Inggris. Akhirnya lahirlah perjanjian "Convention of London" pada tahun 1814. Indonesia pun kembali ke pangkuan Belanda hingga 1942.

Komentar
Posting Komentar