Sejarah Pergerakan Nasional : Politik Etis
“Politik
Etis”
Politik
etis atau biasa disebut juga sebagai politik balas budi adalah suatu pemikiran
yang menyatakan bahwa pemerintah kolonial belanda memegang tanggung jawab moral
para pribumi. Politik etis ini juga merupakan suatu bentuk kritik terhadap
politik tanam paksa. Munculnya Conrad Theodore Van Deventer dan Pieter
Brooshooft seolah-olah membukakan mata pemerintah kolonial belanda untuk lebih
memperhatikan nasib para kaum pribumi. Sebelumnya memang nasib kamu pribumi
sendiri sangat tidak diperhatikan oleh pemerintah kolonial. Contohnya seperti
kebijakan tanam paksa yang jelas hanya memberikan keuntungan sepihak yaitu bagi
pemerintah kolonial. Dalam karangan karya Van Deventer yang berjudul “Hutang
Kehormatan (1899)”, Van Deventer menyebutkan bahwa dari hasil sistem tanam
paksa saja, negeri belanda bisa mendapat keuntungan berjuta-juta gulden.
Apalagi antara tahun 1867-1878 rakyat belanda sendiri memperoleh keuntungan
sebesar kurang lebih 187 juta gulden. Menurut Van Deventer jelas ini adalah
sebuah hutang pemerintah belanda kepada rakyat hindia belanda yang harus
dikembalikan sekalipun bukan dalam bentuk gulden. Oleh karena itu, Van Deventer
mengajukan anjuran yang disebut dengan “Trias Etika”.
Pada
17 September 1901, di dalam isi pidato pembukaan parlemen belanda, Ratu
Wilhelmina menyatakan bahwa pemerintah belanda mempunyai panggilan moral dan
utang budi (een erschuld) kepada bangsa
pribumi di Hindia Belanda. Panggilan moral tadi dituangkan oleh Ratu Wilhelmina
ke dalam kebijakan Trias Etika nya Van Deventer yaitu :
a.
Irigasi (Pengairan), membangun dan
memperbaiki pengairan dan bendungan demi kepetingan pertanian.
b.
Emigrasi, mengajak penduduk untuk
bertransmigrasi.
c.
Edukasi, memperluas usaha dalam
bidang pengajaran dan pendidikan.
Pengaruh politk etis
sendiri sangatlah besar bagi kaum pribumi sendiri apalagi di bidang pengajaran
dan pendidikan (edukasi). Sejak tahun 1900, mulai berdiri sekolah-sekolah bagi
kaum priyayi maupun kaum rakyat biasa. Lalu, banyak juga kaum pribumi yang
mulai menghilangkan budaya feodalisme nya dan lebih mengembangkan diri ke arah
barat seperti proses emansipasi dan menuntut pendidikan ke arah swadaya.dampak
positif yang bisa dirasakan dari politik etis sendiri adalah munculnya golongan
terpelajar dan elit terpelajar (organisasi pergerakan). Keberadaan
sekolah-sekolah yang didirikan untuk meningkatkan standar mutu pendidikan dan
sumber daya manusia nyatanya tidak menjadi sebuah saran pencerdasan masyarakat
pribumi. Mereka hanya sebatas diajari berhitung, menulis dan membaca saja dan
setelah lulus pun mereka hanyalah ditempatkan di kantor-kantor belanda di
Indonesia sebagai pegawai kelas rendah. Penyebabnya adalah karena belanda masih
enggan untuk mleepas politik kolonialnya. Pendidikan lebih ditekankan untuk
kepentingan pemerintah kolonial sendiri bukan untuk rakyat jajahannya. Karena
Belanda sendiri sadar bahwa sistem pendidikan itu perlahan akan menjadi efek
domino bagi pemerintah belanda karena secara tidak langsung dengan sistem
pengajaran dan pendidikan yang lebih ditingkatkan ini perlahan akan melahirkan
golongan orang-orang yang nantinya akan sangat berperan besar dalam usaha
mencapai kemerdekaan Indonesia.
Politik etis sendiri
memang tujuannya untuk menuntun bangsa Indonesia sendiri ke arah yang lebih
maju lagi. Namun, tetap saja mereka bernaung dibawah politik penjajahan.
Pemerintah Belanda sendiri menjalankan politik etis ini tidak didasarkan pada
perasaan yang ikhlas dan tulus untuk melakukan itikad baik. Namun, mereka
melakukan ini semata-mata karena mereka takut akan kritik dan takut memicu
terjadinya perlawanan dari rakyat-rakyat indonesia sendiri. Walaupun begitu,
pada abad 19 beberapa orang belanda sudah mulai peduli dan prihatin terhadap
kesejahteraan dan status rakyat pribumi. Akhirnya, mereka melakukan usaha-usaha
namun mengatasnamakan pribadi untuk memperbaiki keadaan rakyat pribumi itu
sendiri. Tokoh-tokoh yangberinisiatif untuk membantu keadaan rakyat pribumi diantaranya
adalah K. E. Holle, C. Snouck Hurgronje dan W.P.D. de Wolff van Westerrode. K.
E. Holle sendiri membantu keadaan rakyat pribumi di bidang pertanian. Ia membantu
langsung orang sunda dalam melakukan kegiatan pertanian dan menyejahterakan
rakyat hindia belanda juga. Lalu, Snouck Hurgronje yang memberikan konsep
tentang pendidikan, pengairan, dan perpindahan penduduk. Awalnya memang
pendidikan hanya dikhususkan bagi kaum priyayi saja. Namun, karena kebutuhan di
bidang birokrasi yang meningkat, banyak
masyarakat kelas rendah atau bawah yang boleh secara langsung masuk ke dalam
dunia pendidikan. Yang terakhir ada Van Westerrode yng meletakkan dasar-dasar pengorganisasian
Bank Kredit untuk Simpan Pinjam dan Pertanian yang mengadakan perlindungan
terhadap hutang-hutang (Susilo and Isbandiyah 2018).
Walaupun politik etis
itu bersifat baik namun masih banyak penyalahgunaan dalam pelaksanaannya yang
dilakukan oleh pemerintah kolonial belanda seperti :
a. Irigasi
: pengairan hanya ditujukan kepada tanah-tanah yang subur yang digunakan oleh
perkebunan swasta milik Belanda, sedangkat milik rakyat tidak di aliri air dari
irigasi tersebut.
b. Edukasi :
Walaupun pemerintah belanda membangun sekolah-sekolah, akan tetapi pendidikan
yang layak itu hanyalah untuk anak-anak pegawai negeri saja dan orang-orang
yang berasal dari keluarga mampu. Juga terjadinya diskriminasi dimana
pengajaran di sekolah kelas I hanya untuk anak-anak mampu dan pegawai negeri
saja sedangkan di sekolah kelas II barulah untuk pribumi dan rakyat kecil
lainnya.
c. Migrasi :
Migrasi dari pulau Jawa ke luar Jawa pun hanya ditujukkan ke daerah-daerah yang
dikembangkan untuk perkebunan milik belanda.mereka yang bermigrasi hanya
dijadikan kuli kontrak. Banyak yang melarikan diri karena mereka hanya untuk
memenuhi kebutuhan akan tenaga kerja saja.
Daftar Pustaka
Lapian Prof. Dr.A. B. Indonesia dalam
Arus Sejarah Jilid V : Masa Pergerakan Kebangsaan [Book]. - DKI
Jakarta : PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, 2009.
Muttaqin Fajriudin Sejarah Pergerakan Nasional
[Book]. - [s.l.] : Humaniora, 2015.
Poesponegoro Marwarti Djoened and Notosusanto Nugroho Sejarah Nasional
Indonesia Jilid V : Zaman Kebangkitan Nasional dan Masa Hindia Belanda
[Book]. - [s.l.] : Balai Pustaka BP, 1975.
Susilo Agus and Isbandiyah POLITIK ETIS DAN
PENGARUHNYA BAGI LAHIRNYA PERGERAKAN BANGSA INDONESIA [Journal]. -
Lubuklinggau : [s.n.], 2018. - Vol. 6.
Komentar
Posting Komentar