Media Propaganda Jepang
1.
Berubahnya
Fungsi Film dari Media Hiburan menjadi Media Propaganda
Di
masa perang, film yang awalnya berfungsi sebagai media hiburan masyarakat
justru berubah menjadi alat indoktrinasi politik. Ini tidak terlepas dari peran
film sebagai alat propaganda yang paling penting pada saat itu. Banyak
perubahan dalam pasar film di Jawa sendiri sejak Jepang menduduki Jawa. film-film
Amerika atau film-film yang berasal dari negeri “musuh” dilarang tayang. Padahal
pada tahun 1939 atau sebelum Jepang menduduki Jawa, Film-film Amerika lah yang
paling banyak beredar dengan presentase 65% bahkan film-film jepang beredar
hanya sekitar 0,2% saja. Pemerintah Jepang menetapkan akan mengimpor 52 film
jepang per tahunnya. Film-film yang diimpor pun tidak murni film yang dibuat
untuk media hiburan masyarakat. Film yang diimpor adalah film-film yang memang
berguna bagi propaganda mereka. Film-film yang mengandung indoktrinasi politik
dan ajaran moral yang boleh dipertunjukkan kepada masyarakat Jawa. ada Kokusaku Eiga (film-film kebijakan
nasional) yang berisi tentang prinsip-prinsip pemerintahan yang memang
pemerintah sendiri yang merekomendasikan film itu.
Film-film yang dipertunjukkan pun terbagi
menjadi enam kategori berdasarkan judul dan isinya bisa dikenali penulis yaitu :
a. Film
yang menekankan persahabatan antara bangsa Jepang dan bangsa-bangsa Asia serta
pengajaran Jepang.
b. Film
yang mendorong pemujaan patriotism dan pengabdian terhadap bangsa.
c. Film
yang melukiskan operasi militer dan menekankan kekuatan Jepang.
d. Film
yang menekankan kejahatan bangsa barat.
e. Film
yang menekankan moral berdasarkan nilai-nilai Jepang seperti pengorbanan
diri,kasih sayang ibu, penghormatan terhadap orang-orang tua, persahabatan yang
tulus, sikap kewanitaan, kerajinan,dan kesetiaan.
f. Film
yang menekankan peningkatan produksi dan kampanye perang lainnya.
g. Lain-lain.
(Kurosawa, 1993).
Film-film
dokumenter, berita dan kebudayaan menjadi prioritas utama untuk di produksi. Jawa Eiga Kosha ( Perusahaan film Jawa)
yang dibentuk pada bulan Oktober 1942, membuka studio di daerah Jatinegara dan
mulai memasok film-film diatas pada September 1942 dilanjutkan oleh Nichi’ei (Perusahaan Film Jepang) pada
bulan April 1943. Nichi’ei sendiri
memasok film dokumenter dan kebudayaan setiap 2 minggu sekali yang artinya ada
24 fim per tahun yang dipasok oleh Nichi’ei.
Waktu pemutaran film-film ini pun berkisar dari 10-20 menit dan sangat jelas
mengandung tema propaganda. “Djawa
Bahroe” adalah judul film berita yang pertama kali disunting oleh “Djawa Eiga Kosha” pada setiap bulannya.
Lalu disusul oleh “Djawa Nyusu” atau
“Berita film di Jawa” yang diproduksi dan disunting oleh Nichi’ei. Film berita sendiri memiliki sifat yang instruktif. Itu
dapat dilihat dari film berita yang sangat sedikit sekali melaporkan peristiwa
sosial seperti kejahatan, kecelakaan lalu lintas, kebakaran, dll. Film berita
lebih dominan pada pengajaran moral dan teknis menyebarkan pesan pemerintah.
Lalu, Film berita juga lebih sering mempertontonkan pidato dari para pemimpin
Indonesia contohnya adalah Sukarno dan bahasa Indonesia pun di film-film ini
mengikuti gaya khas perang jadi lebih terdengar seperti seruan perang. Film-film
yang dibuat pun lebih menunjukkan sifat instruktif dan propaganda. Padahal
kebanyakan film harusnya berisi hiburan.
2.
Bioskop
Keliling : Hiburan dan Propaganda bagi Kelas Bawah
Pemutaran
dan distribusi film di Pulau Jawa sendiri berada dibawah tanggung jawab Eihai (Perusahaan distribusi film
Jepang). Eihai lah yang merumuskan
dan menjalankan program umum dengan cara menjadikan film itu untuk tujuan
propaganda. Tugas Eihai sendiri
adalah Pemilihan film yang akan diedarkan, penyebaran film ke bioskop setempat,
pengelolaan seluruh gedung bioskop yang disita, dan memutar film di lapangan
terbuka (Kurosawa, 1993). Tarif karcis bioskop pada zaman
pendudukan Jepang sendiri bisa dibilang lebih murah dan terjangkau jika
dibandingkan dengan saat zaman Belanda. Ini merupakan salah satu cara agar rakyat menjadi terdorong untuk
pergi ke bioskop termasuk mereka yang berada di golongan bawah. Namun, usaha
mereka mengalami kesulitan karena persebaran lokasi gedung bioskop yang tidak
merata dan lebih terpusat di kota-kota besar saja dan tidak ada yang berlokasi
di pedesaan. Total ada 129 gedung bioskop yang beroperasi di daerah perkotaan
sedangkan 52 gedung lebih berpusat di 7 kota besar seperti Jakarta, Surabaya,
Semarang, Bandung, Malang, Surakarta dan Yogyakarta. Padahal mayoritas penduduk
Jawa tinggal di pedesaan. Jika masalah ini tidak bisa diselesaikan, maka bukan
tidak mungkin usaha indoktrinasi politik dan propaganda mereka menuju ambang
kegagalan. “Bioskop Keliling” adalah gagasan dari pemerintah Jepang sebagai
solusi mereka mengatasi masalah kekurangan gedung bioskop komersial. Ini
mungkin sudah bukan hal yang baru lagi bagi rakyat Jawa terutama yang bermukim
di pedesaan. Karena sebelum masa Perang, “Bioskop Keliling” ini sudah dilakukan
oleh pihak-pihak swasta yang hendak mempublikasikan produk-produknya. Jepang
sudah mempunyai pengalaman dalam mengadakan “Bioskop Keliling” ini. Karena
sebelumnya mereka sudah mencoba menerapkan gagasan ini di negerinya sendiri dan
mungkin “Bioskop Keliling” ini bisa dikatakan sukses di Jepang. Ada 48 operator
film dan perlengkapan yang dibutuhkan untuk peningkatan penyelenggaraan
“Bioskop Keliling” di kawasan Asia Tenggara yang dikirimkan oleh kantor pusat Eihai dan 6 orang diantaranya dikirim ke
Pulau Jawa. 5 pangkalan operasional bioskop keliling telah dibentuk di kota
Jakarta, Semarang, Surabaya, Yogyakarta, dan Malang oleh Djawa Eihai. Selain itu, dibentuk juga tim pemutar sebanyak 15 dan
beberapa dioperasikan oleh orang Jepang. Mereka berkeliling dari satu desa ke
desa lain dengan membawa perlengkapan bioskop dengan meggunakan truk. Biasanya
perjalanan mereka dilakukan saat peristiwa atau upacara tertentu seperti saat
Ulang Tahun Pecahnya Perang Asia Timur Raya ( Ko-A Sai) pada bulan Desember 1943. Pertunjukkan film itu sendiri
dilakukan di lapang terbuka di delapan tempat di kotamadya khusus Jakarta
dengan jumlah penonton sebanyak 53.000, di delapan tempat di Karesidenan
Jakarta dengan jumlah seluruh penontonnya sebanyak 104.000 dan delapan tempat
di Karesidenan Bogor dengan jumlah 96.000 penonton .Pemutaran film pun hanya
berlokasi di satu atau dua desa karena sangat tidak mungkin jika semua desa
dikunjungi sedangkan sarana nya sangat terbatas.oleh karena itu, rakyat-rakyat
dari desa tetangga diundang untuk menonton. pengumuman tentang bioskop keliling
itu disampaikan melalui pejabat desa atau ketua tonarigumi kepada seluruh penduduk desa. film sendiri merupakan
sarana bagi rakyat desa untuk menghibur diri dan melupakan hidup yang penuh
penderitaan.. rakyat sangat tidak sabar menanti kehadiran bioskop keliling ini
bahkan mereka rela berjalan berkilo-kilometer jauhya demi menonton bioskop
keliling ini walaupun dia lapar dan lelah. Bioskop keliling ini bukan hanya
bertujuan untuk menghibur rakyat-rakyat desa namun ditujukan juga untuk
badan-badan khusus seperti kelompok-kelompok romusha, para buruh pabrik,dan anak-anak sekolah. Namun, muncul
sebuah persoalan tentang apakah rakyat mampu menerima dan menangkap dengan baik
isi cerita film ataukah mereka hanya sekedar menikmati tanpa memahami isi
cerita film itu? Ada beberapa usaha untuk membantu rakyat dalam memahami
film-film Jepang ini. Seperti, menambahkan teks bahasa Indonesia ke dalam film
cerita, narasinya diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dalam film
dokumenter, dan menyediakan seorang penerjemah yang berdiri tepat disamping
layar untuk menjelaskan isi film ke dalam bahasa setempat. Namun, sepertinya
film Jepang hanya memberikan sedikit dampak saja dalam hal mendidik dan
membentuk karakter rakyat sesuai dengan keinginan pemerintah, padahal mungkin
film-film Jawa bisa lebih efektif dan berguna dalam hal propaganda.
3.
Pemanfaatan
Media Lain bagi Propaganda
A.
Teater
Drama, Kamishibai dan Pementasan Wayang
Bukan
hanya film yang dimanfaatkan sebagai alat propaganda dan indoktrinasi politik
oleh Jepang. Media audiovisual lainnya pun tidak luput dari perhatian jepang.
Contohya seperti Drama,Wayang, Tari-tarian, dan lain-lain. Drama atau teater
Indonesia sendiri telah ada pada akhir tahun 1890. Namun, pada tahun 1925
muncul kelompok-kelompok teater baru yang menjadi perubahan baru dalam dunia
teater Indonesia sendiri. Ada nama “Orion” dan “Dardanella” yang disebut juga
sebagai teater “sandiwara” atau “tonil”. Ketika Jepang tiba di Indonesia,
Jepang menganggap bahwa dunia per teateran Indonesia masih belum berkembang.
Maka dari itu, Jepang ingin meningkatkan standar mutu teater Indonesia demi
tujuan propaganda mereka .Akhirnya,
Sendenbu membentuk sekolah drama (Sekolah Tonil) di Jakarta. Selain
membentuk sekolah tonil, mereka juga mendidik penulis naskah profesional, actor
dan staf lainnya dan juga mendorong agar banyak kelompok-kelompok teater baru
yang terbentuk. Banyak kelompok yang baru terbentuk seperti “Dewi Mada”,
“Bintang Soerabaja”, “Tjahaja Timoer”, “Wanasari” dam “Miss Tjitjih”. Selain
kelompok- kelompok tadi yang bersifat nasional, ada juga kelompok-kelompok
kecil yang bersifat local yang tergabung menjadi satu dan membentuk Jawa Engeki Kyokai atau “ Perserikatan
Oesaha Sandiwara Djawa” (P.O.S.D). Setelah Keimin
Bunka Bushido atau pusat kebudayaan terbentuk, maka jenis cerita apa yang
dapat dipertunjukkan dan tema apa yang harus ditekankan menjadi tanggung jawab keimin bunka bushido. Dalam usaha
mencari tema naskah yang bagus maka keimin
bunka bushido menyelenggarakan sayembara berhadiah dan cerita yang bagus
akan diterbitkan ke dalam sebuah buku berjudul “Keboedajaan Timoer”. Kelompok-kelompok teater tadi yang namanya
usdah melejit biasanya bertugas menjadi pelopor. Pelopor dalam arti berkelana
dari satu kota ke kota lain untuk memperkenalkan cerita-cerita teater yang baru
kepada perkumpulan teater setempat. Lalu, majalah umjum yang berjudul “Djawa
baroe” menerbitkan cerita-cerita baru itu sehingga grup teater local
pun bisa mementaskannya. Isi dari drama ini kebanyakan menceritakan Romusha,
Tonarigumi, kegotong royongan, kebrutalan belanda, tentara sukarela dan
pertahanan tabah air.selain itu cerita-cerita sejarah pun banyak dipentaskan
karena mungkin dengan kisah sejarah ini maka akan menjadi sangat mudah
menjangkau rakyat desa yang memang telah menjadi sasaran usaha P.O.S.D sendiri.
Adapun kisah komedi pendek atau “Lelucon” juga yang memang sangat didorong
perkembangannya. Lelucon sendiri diselipi apa yang disebut manzai ( seni melawak dari Jepang) yang dimanfaatkan penguasa
Jepang sebagai alat propaganda juga. Selain teater drama, ada juga yang disebut
dengan “Teater Kertas” atau dalam Bahasa Jepang disebut Kamishibai. Kamishibai
sendiri menunjukkan sebuah pementasan kisah-gambar gaya Jepang yang memang
popular di kalangan anak-anak Jepang. Di Jepang sendiri, dipakai sebagai
penyampai materi pengajaran di sekolah-sekolah dan sebagai hiburan untuk
mencari keuntungan. Sedangkan Di Jawa, Kamishibai
adalah media propaganda yang murah dan mudah untuk menyebarkan pesan-pesan
pemerintah ke anak-anak maupun orang dewasa. Sendenbu sendiri yang
mengawasi langsung kegiatan produksi dan pertunjukkan Kamishibai ini. Pertunjukkan Kamishibai
dibawa keliling oleh para staf sendenbu
ke sekolah-sekolah, unit-unit kerja dan juga desa. Dalam pertunjuukkannya
sendiri mereka menggunakan Bahasa daerah yang dianggap oleh pemerintah Jepang
lebih efektif. Perjalanan keliling Kamishibai
sendiri kadang dilakukan untuk kampanye hal-hal tertentu. Berbeda dengan
biasanya, Kamishibai yang dikhususkan
untuk kampanye bukan dibawa oleh staf sendenbu namun oleh tim besar yang
terdiri dari operator film, musisi, pembicara manzai, actor dan sebagainya (Kurosawa, 1993). Pertunjukkan Kamishibai juga bersifat umum. Siapa saja boleh menontonnya dan
tidak dipungut biaya. Sama seperti “Bioskop Keliling”, kehadiran Kamishibai diumumkan melalui pejabat
desa dan ketua tonarigumi untuk
nantinya disampaikan kepada penduduk desa. Walaupun kamishibai ini dimanfaatkan oleh Jepang sebagai alat propaganda,
Namun banyak juga topik kamishibai
yang tidak berisi politik dan propaganda pemerintah dan lebih dominan kepada
tujuan untuk hiburan saja. Menurut “Laporan Bulanan Sendenbu”, No.22, tema-tema kamishibai
yang terutama ditekankan pada bulan Desember 1943 ialah, antara lain:
a. Promosi
peningkatan produksi pertanian
b. Promosi
tabungan pos
c. Pertahanan
nasional (seruan untuk masuk tentara PETA)
d. Dorongan
dan tuntunan untuk tonarigumi
e. Dorongan
untuk menjadi romusha
f. Sejarah
jawa
g. Perkenalan
terhadap anak-anak jepang (Kurosawa, 1993).
Selain
Drama dan Kamishibai, Seni panggung
tradisional Jawa juga dimanfaatkan sebagai alat propaganda Jepang yaitu wayang
golek dan wayang kulit. Keimin Bunka
Bushido dan Sendenbu bekerja sama dengan penduduk Jakarta menyelenggarakan pementasan wayang
golek pada tanggal 22 Januari 1945. Kisah yang diangkat pun harus sesuai dengan
kebijakan pemerintah Jepang. Selain wayang golek, wayang kulit pun dimanfaatkan
oleh Jepang. Cerita yang dipilih oleh pemerinrtah kebanyakan tentang perang dan
perlawanan militer. Tujuan nya tidak lain untuk mengobarkan semangat perang
kepada rakyat.
B.
Media
Suara : Lagu dan Radio
Lagu
sendiri dipakai propaganda untuk meningkatkan moral dan menyebarkan
gagasan-gagasan pemerintahan Jepang. Di berbagai tempat seperti
sekolah-sekolah, rapat-rapat dan organisasi massa, Lagu militer dan
kepahlawanan Jepang lah yang paling banyak diajarkan dan di dengarkan secara berulang-berulang.
Pada bulan November 1942, koran harian sinar
matahari di Yogyakarta seperti menerbitkan semacam buklet yang judulnya itu
Njanjian Nippon Boeat Oemoem. Di
dalamnya ada 34 lagu Jepang yang sudah diterjemahkan kedalam tulisan latin dan
juga nada musik jawa yang memakai angka. Akan tetapi, bukan lagu yang berbau
propaganda saja, ada juga beberapa lagu yang ber-genre pop. Propaganda memakai
lagu juga bukan hanya ditujukan untuk orang-orang dewasa, namun anak-anak juga.
Pada tahun 1943, muncul buku yang judulnya Aneka
Warna Njanjian Kemakmoeran Bersama Asia Timoer Raja, yang isinya berupa
nyanyian pastinya dan ilustrasi indah berwarna-warni. Lagu-lagu Jepang yang
terbit di Asia terutama Indonesia tidak semuanya memakai Bahasa Jepang
syairnya, adapun yang memakai syair Bahasa Indonesia walaupu tidak banyak.
Tujuannya untuk meningkatkan semangat dan moral orang Indonesia. Orang
Indonesia nampaknya memang sangat suka sekali nada lagu sampai-sampai
orag-orang tua di negara Indonesia masih ingat dan menyanyikan lagu jepang yang
generasi muda jepang pun tidak tau lagu itu. Salah satunya lagu yang berjudul “Aikoku no Hana” atau “Bunga
Kepahlawanan” yang memang lagu ini juga disukai oleh Soekarno. Dorongan untuk mengubah lagu-lagu propaganda
dan menciptakan lagu-lagu baru mulai dicanangkan oleh kepala Seksi Musik,
Utoyo. Syair-syair lagu dengan tema propaganda sendiri garis besarnya bisa
diklasifikasikan menjadi 4, yaitu :
1. Yang
ditujukan untuk meningkatkan semangat kerja
2. Yang
ditujukan untuk semangat pertempuran
3. Yang
ditujukan untuk meningkatkan kecintaan kepada tanah air sebagai anggota Asia
Timur Raya
4. Tema-tema
lain (Kurosawa, 1993).
Efek
utama bagi rakyat menyanyikan lagu-lagu ini karena memang bisa meningkatkan
semangat rakyat untuk hidup walaupun situasi sosial-ekonomi mereka menyedihkan
dan prihatin. Lagu sendiri bukan hanya untuk nyanyian semata namun kadang juga
dikombinasikan dengan film atau pun seni panggung.
Selain
nyanyian atau lagu, media suara radio ikut digunakan sebagai alat propaganda
Jepang. Pada masa pendudukan Jepang, siaran radio sendiri berada dibawah
pengawasan dan kontrol yang ketat dari pemerintah. Hanya HNK (siaran radio
Jepang) yang boleh beroperasi, radio-radio swasta malah tidak diizinkan beroperasi. Stasiun pemancar sendiri
dikontrol oleh Sendenbu sampai Jawa Hoso Kanrikyoku (Biro pengawas
siaran Jawa) yang dibentuk pada tanggal 1 Oktober 1942. Jawa Hoso Kanrikyoku sendiri memilik 8 stasiun pemancar lokal di
kota-kota Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surakarta, Banyumas, Semarang, Surabaya
dan Malang (Kurosawa, 1993).
Hoso Kanrikyoku memang bertanggung
jawab penuh dalam hal teknis dan administrasi, Namun, Sendenbu lah yang memiliki wewenang dalam bidang program siaran.
Bahasa yang digunakan dalam siaran
radio ini adalah Bahasa Indonesia. Namun, untuk siaran berita sendiri disiarkan
dalam 4 bahasa yang berbeda, yaitu Bahasa Jepang, Indonesia, Jawa dan Sunda.
Bahasa Jawa dan Sunda yang paling lama (3 kali sehari selama total waktu 60
menit), Bahasa Indonesia (3 kali sehari dengan total waktu 45 menit). Dan
Bahasa Jepang (sekali sehari selama 30 menit). Mengapa Bahasa Jepang hanya
sekali selama 30 menit? Karena Bahasa jepang sendiri hanya ditujukan untuk
orang-orang yang hendak belajar Bahasa Jepang saja. Sedangkan Bahasa Jawa dan
Sunda sendiri ditujukan untuk daerah Jakarta yang memang disana hidup banyak
suku. Namun, bukan berarti siaran Bahasa Jawa ada di daerah Sunda begitu pun
sebaliknya. Isi siaran program radio bukan sebatas isinya tentang propaganda
dan pesan kebijakan pemerintah saja namun ada juga yang lain seperti : ceramah
(2x sehari), pelajaran Bahasa jepang bagi dewasa ( 3x semiggu 20 menit) dan
anak-anak (5 menit setiap hari), siaran musik, seni panggung tradisional. Untuk
musik sendiri, musik Jawa (gamelan dan keroncong), Jepang (lagu-lagu militer
dan kepahlawanan) dan Barat (kebanyakan yang diubah oleh pengubah lagu Jepang
dan negara-negara As) (Kurosawa, 1993).
Sedangkan
ceramah topiknya berisi seputar petunjuk teknis dalam pertanian dan industri,
dorongan akan nilai-nilai ideal, pengajaran ideologi, perkenalan dengan Jepang,
pengajaran islam, dan sebagainya (Kurosawa, 1993).
Peran radio sendiri bagi propaganda
adalah 1). sebagai sarana untuk menyebarkan teks pengumuman yang sangat cepat
dan akurat. 2) radio juga secara langsung dan tidak langsung menawarkan
berbagai jenis pengajaran politik. 3). Rakyat pun diberi kesempatan untuk mendapatkan
pendidikan sosial melalui radio ini.4). peringatan serangan udara kepada
penduduk oleh pihak sekutu pun diberitahuka lewat radio ini.
Radio
sendiri lebih informatif dan sangat berdampak bagi masyarakat disbanding film
dan seni panngung sendiri. Sendebu
sendiri berusaha untuk meningkatkan persebaran radio di kalangan orang
Indonesia. Karena pada tahun 1939, pada masa Hindia Belanda dari 87.510 radio
yang terdaftar, hanya ada 25.608 radio di kalangan orang Indonesia yang artinya
hanya 0,04% saja tingkat persebaran radio di kalangan orang Indonesia.
Akhirnya, pemerintah pun membangun apa yang dinamakan radio to (Menara radio) di tempat-tempat umum.
Mengenai
tanggapan rakyat jawa terhadap siaran Jepang, seorang informan Jawa mengatakan
:
“Kalau
Jepang menyiarkan musik di Jawa, banyak orang yang mau mendengarkan, tetapi
kalua propaganda yang disiarkan, beberapa orang pergi, sambil mengatakan :
“Nippon-Bohong” (Kurosawa, 1993).
Komentar
Posting Komentar